SUARARAKYAT62, TAPANULI TENGAH – Waktu belum sempat menyembuhkan luka, namun air kembali datang membawa kabar duka. Tiga bulan setelah banjir 25 November 2025 merendam Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Tiga Bulan Mengungsi, Luka yang Belum Kering Kini Dilanda Banjir Kembali

Musibah itu kembali mengetuk dengan wajah yang sama—dingin dan tak berperasaan.Pertama tanggal 25 nov 2025 banjir kedua 2 Januari 2026, banjir ketiga tanggal 11 februari 2026, bulan kempat tanggal 16 februari 2026 kemarin.

Bagi Jaya Telaum Banua dan Warga pengungsian yang diwawancarai oleh Media Suararakyat62 melalui telepon seluler cobaan ini seperti lingkaran yang tak berujung. Ia belum benar-benar pulang. Ia belum benar-benar bangkit. Namun banjir kembali menyapa, seakan mengejek harapan yang baru saja hendak tumbuh.

Tiga bulan mengungsi bukan perkara ringan. Tiga bulan menahan rindu pada rumah yang retak, tiga bulan menenangkan anak-anak yang bertanya kapan semuanya akan normal kembali. Kini, saat secercah keyakinan mulai bersemi, air kembali merenggutnya.

Langit Huta Nabolon seolah tak lagi sekadar mendung, melainkan menggantungkan kegelisahan di setiap sudut desa. Lumpur yang belum sepenuhnya kering kembali basah. Dinding yang belum sempat diperbaiki kembali diguncang. Seakan bencana tak memberi jeda untuk bernapas.

Bantuan pangan dan peralatan dapur memang pernah datang. Namun bagaimana memasak mimpi jika rumah saja belum tegak berdiri? Bagaimana menanak harapan jika tanah tempat berpijak terus digerus air?

Anak-anak kembali memeluk ibunya dengan ketakutan yang sama. Tenda pengungsian yang dulu terasa sementara kini seperti menjadi alamat tetap. Malam-malam kembali panjang. Angin terasa lebih tajam, membawa bisik cemas yang tak bisa dihalau.

Ironisnya, banjir tak hanya merendam rumah, tapi juga keberanian untuk bermimpi. Setiap tetes air yang jatuh seolah menghitung mundur ketahanan hati mereka. Jaya berdiri dalam diam, menatap air yang mengalir seperti mengalirkan juga sisa-sisa semangatnya.

Ia tak pernah meminta lebih. Ia hanya ingin pulang—benar-benar pulang. Bukan sekadar bertahan di antara kain tenda dan lantai seadanya. Ia berharap ada perhatian lebih, ada tangan-tangan yang tak hanya memberi makan, tetapi juga membantu membangun kembali tempat berteduh yang layak.

Di Huta Nabolon, banjir bukan lagi sekadar peristiwa. Ia telah menjadi bayang-bayang yang datang tanpa permisi. Dan bagi Jaya serta keluarganya,

tiga bulan mengungsi kini terasa seperti perjalanan tanpa ujung dimana setiap harapan yang tumbuh harus kembali berenang melawan derasnya kenyataan.

“Kami Warga pengungsian Huta Nabolon berharap bantuan dari seluruh Warga indonesia untuk memulihkan keadaan kami,”ungkap jaya dan Warga lainnya, Sabtu(21/1/2026).

(Es)