SUARARAKYAT62, PASURUAN — Normalisasi sudah digelar, sedimen telah dikeruk, namun DAS Sungai Petung tetap meluap dan melumpuhkan jalur utama Pantura, Selasa (17/2).

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Hilir Dinormalisasi, Hulu Belum Tertangani, Jalur Pantura Lumpuh Sementara 

Kiriman air dari hulu kembali menjadi mimpi buruk yang memaksa arus lalu lintas dialihkan dan memperlihatkan bahwa persoalan banjir belum benar-benar terurai.

Sebelumnya, pemerintah melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Timur bersama BPBD melakukan pengerukan sedimen di sisi utara dan selatan jembatan guna memperlancar aliran menuju muara.

Upaya normalisasi bahkan dilakukan rutin, termasuk pengerukan intensif pasca-banjir besar awal 2026. Namun derasnya debit kiriman membuat kapasitas sungai tak mampu menampung lonjakan air yang datang dalam waktu singkat.

Air yang meluber ke badan jalan memaksa petugas melakukan rekayasa lalu lintas.

Satlantas Polres Pasuruan Kota mengalihkan kendaraan ke jalur alternatif untuk mengurai kemacetan panjang di ruas strategis Pantura.

 

Sejumlah personel disiagakan di titik rawan guna membantu pengendara sekaligus mencegah kecelakaan akibat arus genangan yang cukup deras.

Peristiwa ini menjadi peringatan bahwa penanganan banjir di DAS Sungai Petung tak cukup hanya bertumpu pada normalisasi di hilir.

Kondisi hulu yang diduga masih marak aktivitas tambang ilegal disebut berkontribusi terhadap rusaknya ekosistem dan berkurangnya daya tampung alami sungai, diperparah tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir.

Jika persoalan di hulu tidak segera ditangani secara serius dan menyeluruh, luapan Sungai Petung berpotensi terus berulang dan menjadikan jalur Pantura sebagai korban setiap kali debit kiriman meningkat.

 

Penulis : Abdul Khalim