
Pasuruan, Suararakyat62.com
Bukan terik matahari, tapi amarah yang membakar Kota Pasuruan terasa lebih membara bukan karena sinar matahari, melainkan gelombang kekecewaan yang meluap dari insan olahraga dan masyarakat luas. Puluhan massa berkumpul di depan Kantor Pemkot Pasuruan, Senin (02/3/2026) dalam aksi yang emosional namun tetap terarah.
Di antara mereka, ada atlet berprestasi, Wagub LIRA Jatim sekaligus Ketua GM-FKPPI Ayik Sohaya S.H., tokoh agama, dan warga peduli. Semua hadir dengan satu tujuan: memprotes pemangkasan drastis bonus atlet Porprov Jatim 2025 yang dinilai sangat merendahkan martabat para pejuang olahraga.
Kekecewaan ini berakar dari penurunan nominal bonus yang sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya: medali emas dari Rp30 juta turun menjadi Rp10 juta, perak dari Rp20 juta menjadi Rp7,5 juta, dan perunggu dari Rp10 juta menjadi Rp5 juta. Angka-angka ini dianggap jauh tidak sebanding dengan keringat, air mata, dan pengorbanan materi yang dikeluarkan atlet selama berlatih keras mengharumkan nama daerah. Puncaknya, beberapa atlet sempat secara terang-terangan membuang papan simbolis bonus dan bahkan menolak menerimanya langsung dari tangan Walikota di GOR beberapa waktu lalu tindakan yang viral di media sosial sebagai bentuk protes yang paling jujur dan menyakitkan.
Wahyu, perwakilan atlet Kota Pasuruan, dengan nada bergetar meminta pemerintah menghargai jerih payah mereka yang berdarah-darah di lapangan. Sementara di tempat terpisah, Ilmi (nama samaran), peraih medali emas, bercerita tentang latihan selama 5 tahun yang membuatnya harus meninggalkan keluarga. Ia berharap bonus tersebut bisa membantu orang tua membayar hutang dan membiayai sekolah adiknya, namun kini harapan itu hanya menjadi mimpi yang pupus.
Ayik Sohaya menyampaikan kritik yang sangat pedas terhadap kebijakan ini. Ia bahkan mengirimkan karangan bunga bela sungkawa kepada Walikota, Kadispora, dan Ketua KONI sebagai simbol “matinya rasa” pimpinan daerah terhadap nasib atlet. Ayik menuntut Walikota segera mundur jika tidak mampu mensejahterakan atlet dan menuduh janji-janji kampanyenya palsu. Tak hanya itu, ia juga melempar isu adanya “geng-gengan” di internal Pemkot antara Walikota, Wakil Walikota, dan Sekda yang membuat kebijakan menjadi tidak sinkron dan merugikan kepentingan kota, termasuk para atlet.
Tokoh agama yang hadir, Gus Saikhu, menegaskan bahwa menghargai jasa orang lain adalah hal yang sangat penting dalam ajaran agama. Pemberian bonus yang tidak layak dianggapnya sebagai bentuk ketidakadilan yang besar, dan pendapatnya ini mendapat dukungan luas dari massa yang hadir.
Amarah massa semakin memuncak karena ketidakhadiran Walikota dan Sekda saat aksi berlangsung. Karangan bunga dan pernyataan sikap akhirnya hanya diterima oleh Kabid Bakesbangpol, Heri. Ketidakhadiran ini dianggap sebagai tanda ketidakpedulian yang parah, sehingga massa melabeli pimpinan kota sebagai sosok “pengecut” yang enggan menghadapi dan mendengarkan aspirasi rakyatnya sendiri.
Saat ini, suasana Kota Pasuruan masih terasa memanas. Aksi damai yang awalnya dilakukan telah berubah menjadi kritik yang tajam, menuntut keadilan dan penghargaan yang layak bagi para atlet. Masyarakat kini menunggu langkah selanjutnya dari pihak Pemkot apakah akan mendengarkan aspirasi rakyat dan memperbaiki kebijakan yang ada, atau tetap membiarkan kekecewaan ini terus membara. Namun satu hal yang pasti: suara para atlet dan warga Pasuruan tidak bisa lagi diabaikan. Mereka telah berbicara, dan dunia mendengarkan.
Ap/Red




