Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Proyek pengurugan lahan untuk pembangunan SPPG di Kelurahan Krampyangan, Kota Pasuruan, menuai sorotan tajam dari warga dan para pengguna jalan. Aktivitas truk pengangkut pasir serta tanah urug yang keluar masuk lokasi proyek dinilai mengganggu kenyamanan publik dan berpotensi membahayakan keselamatan pengendara, Jumat (18/4/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Proyek SPPG Krampyangan Dikeluhkan, Abaikan Keselamatan, Lurah Bungkam dan Satlantas Bertindak

Pantauan di lapangan menunjukkan material tanah dan pasir berceceran di sepanjang ruas jalan sekitar proyek. Kondisi tersebut menyebabkan jalan menjadi kotor, licin saat basah, berdebu saat cuaca panas, serta meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua.

Selain itu, tingginya mobilitas kendaraan proyek juga memicu kepadatan arus lalu lintas. Ironisnya, hingga kini tidak terlihat adanya petugas pengatur lalu lintas maupun sistem pengamanan di sekitar lokasi proyek.

Sejumlah warga mempertanyakan lemahnya pengawasan terhadap proyek tersebut, terlebih dampaknya langsung dirasakan masyarakat yang melintas setiap hari.

Sikap Lurah Krampyangan pun ikut disorot lantaran hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan resmi atas keluhan warga yang terus bermunculan.

Aktivis lingkungan hidup Jawa Timur, Bung Achmad, menilai proyek pembangunan tidak boleh mengabaikan aturan lingkungan maupun keselamatan masyarakat.

“Patut juga diduga bahwa pasir urug yang digunakan berasal dari tambang yang tidak memiliki izin pertambangan atau izin operasi produksi. Aparat Penegak Hukum harus segera bertindak menelusuri asal material tersebut. Proyek nasional jangan sampai hanya dijadikan kepentingan keuntungan pribadi segelintir pihak saja,” tegas Bung Achmad.

Ia menambahkan, setiap proyek pembangunan wajib memastikan seluruh rantai pasok material berasal dari sumber legal, memiliki dokumen lengkap, serta tidak merusak lingkungan.

Menurutnya, jika material berasal dari tambang ilegal, maka negara berpotensi dirugikan dan kerusakan lingkungan bisa semakin meluas.

Sementara itu, seorang pengguna jalan sekaligus warga sekitar, Ibu Rahma (45), mengaku resah dengan kondisi jalan yang semakin semrawut sejak aktivitas proyek berjalan.

“Setiap hari jalan jadi kotor dan berdebu. Kalau hujan licin sekali, kalau panas debunya masuk rumah. Kami takut kalau ada pengendara jatuh, apalagi banyak motor lewat sini,” keluhnya.

Ia berharap pihak pelaksana proyek segera membersihkan jalan secara rutin, menyiapkan petugas lalu lintas, serta memperhatikan keselamatan masyarakat sekitar.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Satlantas Polres Pasuruan Kota dikabarkan akan menindaklanjuti laporan warga terkait aktivitas truk proyek yang dinilai mengganggu lalu lintas.

Masyarakat kini menanti langkah nyata dari pemerintah daerah, aparat kepolisian, dan pihak pelaksana proyek agar persoalan ini tidak berlarut-larut. Warga menegaskan bahwa pembangunan memang penting, namun jangan sampai dilakukan dengan mengorbankan keselamatan, kenyamanan, dan hak masyarakat di sekitar lokasi proyek.

 

Penulis;  Abd Khalim