Trenggalek, SuaraRakyat62.com – Menjelang rencana pembangunan sektor pariwisata dengan dukungan anggaran miliaran rupiah melalui skema pinjaman daerah, Komisi II DPRD Trenggalek turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kawasan wisata Goa Lowo dan Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Selasa (19/5/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Jelang Proyek Wisata dari Pinjaman Daerah, DPRD Trenggalek Sidak Goa Lowo dan Pantai Prigi

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi riil di lapangan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang selama beberapa tahun terakhir mengeluhkan menurunnya jumlah wisatawan.

Sidak dipimpin langsung Wakil Ketua Komisi II DPRD Trenggalek, Murkam, bersama seluruh anggota komisi dengan didampingi Plt Kepala Dinas Pariwisata Tony Widianto beserta jajaran.

Dalam dialog yang berlangsung di kawasan Goa Lowo maupun Pantai Prigi, keluhan pedagang menjadi perhatian utama. Mereka mengaku omzet usaha terus menurun seiring berkurangnya kunjungan wisatawan.

Banyak pedagang kuliner maupun pemilik kios suvenir mengaku kesulitan bertahan akibat kondisi wisata yang tidak lagi seramai beberapa tahun silam.

“Banyak pelaku UMKM mengeluh karena pengunjung sepi, sehingga dagangan mereka tidak laku. Kami memprioritaskan masalah ini untuk menjadi perhatian bersama,” ujar Murkam di sela peninjauan.

Tak hanya menyerap aspirasi, Komisi II juga melakukan pengecekan terhadap sejumlah titik yang masuk dalam rencana pembangunan dan revitalisasi.

Di kawasan Goa Lowo, perhatian dewan tertuju pada proyek revitalisasi serta pembangunan talud penahan tanah dan fasilitas pendukung yang disiapkan pemerintah daerah guna meningkatkan keamanan serta kenyamanan wisatawan.

Setelah dari Goa Lowo, rombongan bergeser menuju Pantai Prigi, terutama area panggung terbuka Prigi 360 yang mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Dalam peninjauan tersebut, DPRD menemukan sejumlah fasilitas publik yang membutuhkan rehabilitasi, mulai dari jalan lingkungan, sistem drainase, hingga deretan ruko wisata yang dinilai memerlukan pembenahan menyeluruh.

Murkam menegaskan, pembangunan pariwisata dengan nilai investasi besar tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata.

“Kami ingin memastikan proyek pembangunan bermodal besar ini benar-benar memberikan dampak nyata, terutama dalam mendongkrak angka kunjungan wisata dan menggerakkan ekonomi warga sekitar,” tegasnya.

Menurutnya, revitalisasi kawasan wisata harus diarahkan untuk menghidupkan kembali Pantai Prigi dan Goa Lowo sebagai magnet wisata unggulan Trenggalek di jalur pesisir selatan Jawa Timur.

Sektor pariwisata, kata Murkam, memiliki peran strategis dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal.

“Tujuan utama pembangunan ini adalah menarik wisatawan agar kembali berkunjung ke Trenggalek. Jika destinasi wisatanya hidup, maka geliat ekonomi UMKM otomatis ikut bergerak naik,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Murkam juga menegaskan bahwa Komisi II DPRD Trenggalek akan mengawal penuh seluruh tahapan proyek wisata yang dibiayai melalui pinjaman daerah agar penggunaannya tepat sasaran dan tidak sekadar menjadi proyek pembangunan tanpa dampak ekonomi yang jelas bagi masyarakat. Menurutnya, setiap rupiah anggaran harus mampu menjawab kebutuhan warga, terutama pelaku UMKM yang selama ini bergantung pada sektor pariwisata.

Komisi II juga mengingatkan Dinas Pariwisata agar tidak hanya fokus membangun infrastruktur, tetapi turut menyiapkan konsep pengelolaan dan promosi wisata jangka panjang.

Menurut dewan, keberhasilan revitalisasi tidak diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari ramainya kunjungan wisata dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kini, harapan besar tertumpu pada proyek revitalisasi tersebut. Para pedagang berharap kawasan wisata Goa Lowo dan Pantai Prigi dapat kembali ramai, sehingga roda ekonomi masyarakat yang sempat lesu bisa kembali bergerak.

DPRD pun memastikan akan terus melakukan pengawasan ketat agar pembangunan wisata benar-benar menjadi investasi bagi masa depan Trenggalek, bukan sekadar proyek yang habis di atas kertas.

 

 

(Yoyok)