Trenggalek, SuaraRakyat62.com – Banjir yang melanda wilayah Trenggalek pada Senin (26/05/2025) menyebabkan ambrolnya jembatan penghubung antara Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, dan Desa Sukorame, Kecamatan Gandusari. Jembatan yang menjadi akses vital warga dan petani itu kini tak lagi bisa dilalui.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
"Warga Kedunglurah Aksi Nyata Atasi Jembatan Rusak"

Putusnya jembatan berdampak besar terhadap sektor pertanian dan aktivitas masyarakat sekitar. Menyadari pentingnya akses tersebut, warga bersama perangkat desa bergerak cepat melakukan perbaikan secara swadaya.

Warga dari RT 19 dan RT 20 Dusun Jatikepluk, Desa Kedunglurah, bersama seluruh jajaran perangkat desa, melakukan iuran untuk menyewa alat berat berupa ekskavator. Langkah ini diambil lantaran menunggu bantuan pemerintah dinilai memakan waktu, sementara masa tanam padi sudah di depan mata.

Sekretaris Desa Kedunglurah, Asrofi, saat ditemui awak media di lokasi menyampaikan bahwa upaya perbaikan ini sangat mendesak.

“Jembatan ini harus segera diperbaiki. Saat ini musim tanam padi, dan jika tidak segera ditangani, para petani tidak bisa menggarap sawah. Kami tidak bisa hanya menunggu bantuan dari pemerintah yang belum tentu datang cepat,” ujarnya.

Asrofi menambahkan, semangat gotong royong masyarakat patut diapresiasi.

“Kami bersama kepala desa dan warga berinisiatif bergotong royong dan menyewa alat berat agar pekerjaan lebih cepat. Kami harap masyarakat tetap kompak, sadar kondisi, dan terus rukun,” pungkasnya.

Senada dengan itu, salah satu warga, Asep, yang turut membantu perbaikan, menyampaikan bahwa banjir menyebabkan jembatan ambruk dan air tak kunjung surut.

“Sudah seminggu kami terdampak banjir. Air belum juga surut, jembatan ambrol. Terpaksa kami bongkar sendiri. Kami menyewa ekskavator dengan biaya swadaya. Ada yang iuran Rp50 ribu, Rp20 ribu, bahkan ada yang Rp100 ribu. Biaya sewa alat berat Rp2 juta per hari, dan kami targetkan selesai dalam dua hari,” terangnya.

Aksi solidaritas warga ini menunjukkan semangat gotong royong masih hidup di tengah keterbatasan. Meski menghadapi bencana, masyarakat tidak tinggal diam dan memilih bergandengan tangan mencari solusi bersama.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada respon resmi dari pihak pemerintah kabupaten terkait bantuan atau penanganan jembatan yang rusak tersebut.

 

 

Pewarta ; Wardoyo