Kota Malang, SuaraRakyat62.com – Penantian panjang warga akhirnya terjawab. Jalan penghubung menuju Pura Luhur Dwijawarsa yang menghubungkan Kelurahan Kedungkandang dan Lesanpuro, resmi mulai dibangun pada Rabu, 6 Agustus 2025, dengan dihadiri unsur Muspika Kecamatan Kedungkandang, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Pembangunan jalan ini disambut penuh antusias oleh warga karena telah lama diusulkan, mengingat pentingnya akses tersebut bagi mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, kegiatan pendidikan Kampus Hindu, serta ritual keagamaan umat Hindu di wilayah tersebut.
“Kami sangat bersyukur. Jalan ini mempermudah umat dalam beribadah dan mempercepat akses ke kampus. Tidak perlu memutar jauh lagi lewat gang sempit,” ujar I Nyoman, Ketua Yayasan Pura Dwijawarsa.
Pura Luhur Dwijawarsa yang berdiri sejak 1957 dan diresmikan pada 1968 merupakan pura Hindu terbesar di Jawa Timur. Renovasi besar pada 2008 menjadikan bangunannya menyerupai arsitektur khas Bali. Keindahan dan keagungannya menarik banyak wisatawan lokal hingga mancanegara, menjadikannya salah satu destinasi spiritual unggulan di Kota Malang.
Lurah Lesanpuro, H. Suwandi, M.Si., MM, menyebut Pura Dwijawarsa sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di tengah masyarakat yang mayoritas Muslim.
“Kami bangga, karena pura ini berdiri di lingkungan yang menjunjung tinggi toleransi. Warga saling menghormati dan hidup berdampingan dalam damai,” ungkapnya.
Pembangunan jalan ini tak lepas dari perjuangan berbagai pihak. H. Wahid, anggota DPRD Komisi B, menyatakan bahwa akses tersebut akan berdampak besar bagi kehidupan warga dan pengembangan wilayah.
“Ini bukan sekadar jalan, tapi langkah besar bagi kemajuan ekonomi, pendidikan, dan pariwisata. Akses bagus, nilai tanah naik, UMKM tumbuh, dan warga makin sejahtera,” tegasnya.
Camat Kedungkandang, Drs. Fahmi Fauzan AZ, M.Si, menilai proyek ini sebagai momentum penguatan sinergi antara masyarakat dan pemerintah.
“Inilah bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah rakyat. Semoga membawa manfaat luas, tak hanya untuk Lesanpuro dan Kedungkandang, tapi juga seluruh warga Malang dan wisatawan,” ucapnya.
Ketua LPMK Lesanpuro, Supriyadi, menyampaikan bahwa ke depan kawasan sekitar Pura akan dikembangkan sebagai pusat wisata budaya dan religi. Potensi jalur wisata dari Sungai Rolak, Mabuk Mancing, hingga panorama Kota Malang dari puncak pura menjadi daya tarik tersendiri.
“Jika aksesnya bagus, wisatawan akan lebih mudah datang. Kita juga akan dorong pertumbuhan UMKM lokal di sekitar pura,” jelasnya.
Sementara itu, Lurah Kedungkandang, Laode Muhammad Arif, menambahkan bahwa proyek ini memperkuat konektivitas antarwilayah dan menjadi solusi atas hambatan mobilitas warga.
“Ini jalan strategis. Sekarang warga tidak perlu mutar jauh, bisa langsung menuju pura atau kampus. Semoga makin ramai dan membawa manfaat luas,” ujarnya.
Dengan semangat pembangunan dan toleransi, Pura Dwijawarsa bukan hanya tempat ibadah, tapi juga menjadi ikon perdamaian, pariwisata, dan kebangkitan ekonomi di timur Kota Malang.
Pewarta ; Mak Ila




