Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Gejolak harga bahan pokok kembali menguji daya tahan ekonomi rakyat kecil. Di Pasar Besar Kota Pasuruan, harga cabai rawit dan tomat melonjak tajam dalam sepekan terakhir, memukul para pedagang dan menurunkan daya beli masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Ekonomi Rakyat Tercekik: Cabai dan Tomat Mahal, Pedagang Warung Ikut Naikkan Harga

Harga tomat kini menyentuh angka Rp30.000 per kilogram, bahkan satu buah tomat ukuran besar dijual Rp3.000. Sementara itu, harga cabai rawit menembus Rp70.000 per kilogram, naik drastis dari harga sebelumnya di kisaran Rp45.000.

“Kalau beli eceran malah lebih mahal. Tomatnya belum matang, tapi sudah dipetik karena stok sulit,” ujar Mas’adah, pedagang sayur, Sabtu (5/7/2025).

Para pedagang mengungkapkan, banyak tomat yang datang dalam kondisi mentah karena petani terpaksa memanen lebih awal akibat cuaca ekstrem di daerah sentra produksi.

“Ini tomat belum waktunya panen, tapi dipetik duluan. Stoknya memang susah,” kata Faizol, pedagang lainnya di Pasar Besar.

Disperindag Kota Pasuruan, menyebut lonjakan harga ini mulai terjadi sejak 22 Juni 2025. Menurutnya, cuaca yang tidak menentu menyebabkan gagal panen dan penurunan kualitas hasil pertanian.

“Tomat sebelumnya di kisaran Rp17 ribu kini tembus Rp27 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Cabai rawit juga naik dari Rp45 ribu menjadi Rp70 ribu. Ini dampak perubahan cuaca di sentra produksi,” jelas Rizki.

Kenaikan harga memicu penurunan daya beli masyarakat. Banyak warga mengurangi jumlah pembelian harian mereka.

“Biasanya beli setengah kilo, sekarang cuma beli satu ons. Harga cabai sempat Rp150 ribu, padahal sebelum Lebaran cuma Rp90 ribu,” ujar Bu Dah, pedagang grosir cabai.

Nur Romlah, pedagang bawang merah di lokasi yang sama, menyebut harga bawang kini stabil tinggi di Rp80.000 per kilogram selama sepekan terakhir.

Kondisi ini juga memukul sektor usaha kecil. Banyak pedagang makanan terpaksa menaikkan harga jual.

“Saya jual tahu tek. Biasanya harganya Rp12.000, sekarang jadi Rp15.000 karena harga cabai masih tinggi,” kata Rochman, penjual makanan kaki lima.

Sementara Bu Sri, pedagang sayur keliling, mengaku kewalahan menyesuaikan harga.

“Semua bahan mahal. Tomat, cabai, bawang merah naik semua. Bingung mau jual berapa ke pembeli,” keluhnya.

Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per awal Juli 2025 menunjukkan:

  1. Cabai rawit: Rp90.050/kg
  2. Bawang merah: Rp64.400/kg
  3. Minyak goreng: Rp22.300/liter
  4. Gula pasir: Rp15.200/kg
  5. Daging ayam: Rp37.500/kg
  6. Daging sapi: Rp134.800/kg

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi nasional mencapai 0,61% pada Maret 2025, sementara pertumbuhan ekonomi stagnan di 5,01%, memicu pergeseran pola konsumsi masyarakat.

Kenaikan harga pangan di Kota Pasuruan bukan hanya menekan kantong warga, tetapi juga menunjukkan rapuhnya sistem distribusi komoditas saat menghadapi gangguan cuaca dan rantai pasok. Jika tidak segera diintervensi, kondisi ini berpotensi memicu krisis konsumsi di kalangan ekonomi bawah.

Masyarakat berharap ada langkah nyata dari pemerintah, mulai dari operasi pasar, subsidi, hingga penguatan stok pangan lokal untuk menstabilkan harga dan meringankan beban rakyat.

 

Pewarta ; Zen_Satuman