Kota Malang, SuaraRakyat62.com – Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, melempar gagasan strategis untuk mengoneksikan Dewan Kesenian Malang (DKM) dengan kawasan Kayutangan Heritage sebagai destinasi wisata seni dan budaya terintegrasi di pusat Kota Malang.

Menurut Amithya, integrasi tersebut tidak sekadar penataan kawasan wisata, tetapi menjadi langkah penting untuk menghidupkan kembali denyut seni budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pelaku seni di Kota Malang.
Ia menilai Kayutangan Heritage saat ini telah menjadi ikon wisata unggulan dengan animo pengunjung yang tinggi. Namun, keterbatasan ruang dan kepadatan pengunjung berpotensi menimbulkan kejenuhan jika tidak diimbangi dengan perluasan dan diversifikasi destinasi.
“Jangan sampai Kayutangan Heritage yang animonya sudah sangat baik justru menjadi titik jenuh. Lokasinya pendek dan sangat padat. Orang datang, tapi tidak bisa menikmati potensi yang seharusnya bisa dinikmati,” ujar Amithya, Selasa (30/12/2025).
Di balik kawasan Kayutangan, lanjut Amithya, terdapat potensi besar yang belum tergarap maksimal, yakni keberadaan DKM di Jalan Majapahit. DKM selama ini menjadi ruang berkumpulnya seniman, budayawan, serta berbagai sanggar seni yang aktif menghidupkan kebudayaan lokal.
Letaknya yang sangat dekat dengan Kayutangan Heritage dinilai strategis karena mudah dijangkau wisatawan hanya dengan berjalan kaki.
“Saya sudah sampaikan ke Pak Wali Kota, kita ini punya potensi luar biasa. DKM itu sangat dekat dengan Kayutangan Heritage dan seharusnya bisa menjadi satu kesatuan kawasan wisata,” ungkapnya.
Amithya membayangkan DKM ke depan tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekspresi seni, tetapi berkembang menjadi destinasi utama dengan agenda pertunjukan seni dan budaya yang terjadwal rutin serta dipromosikan secara berkelanjutan. DPRD Kota Malang, kata dia, siap memberikan dukungan jika dibutuhkan pemugaran atau pengembangan gedung DKM agar mampu menampung lebih banyak wisatawan.
Jika gagasan tersebut terealisasi, konektivitas DKM–Kayutangan diyakini akan melahirkan kawasan wisata unggulan di jantung Kota Malang dengan kekuatan utama pada seni pertunjukan dan kekayaan budaya Nusantara.
“Di daerah seperti Bali dan Yogyakarta sudah ada jadwal khusus seni pertunjukan yang menjadi daya tarik wisata. Saya berharap Malang juga memiliki ciri khas seperti itu,” tuturnya.
Ia juga menyoroti masih banyaknya potensi seni budaya lokal yang belum terekspos secara luas. Menurutnya, kekayaan tersebut perlu digali, dikemas secara menarik, dan diperkenalkan sebagai identitas Kota Malang.
Tak hanya terbatas pada DKM dan Kayutangan, gagasan integrasi ini bahkan membuka peluang konektivitas kawasan heritage yang lebih luas, mulai dari Wisma Tumapel, Alun-Alun Tugu, Balai Kota Malang, hingga Stasiun Kota Malang.
Dengan konsep integrasi kawasan wisata seni dan budaya ini, Kota Malang diharapkan tidak hanya memperkuat daya tarik pariwisata, tetapi juga membangun identitas kota yang berakar pada kekayaan budaya lokal. Jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, kawasan DKM–Kayutangan berpotensi menjadi ikon baru yang menghidupkan ekonomi kreatif sekaligus memperkokoh Malang sebagai kota seni dan budaya.
(Mak Ila)




