TRENGGALEK, SuaraRakyat62.com – Peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek tahun ini berlangsung dengan nuansa berbeda. Di tengah musim kemarau dan persoalan ketersediaan air yang masih dirasakan sebagian petani, pemerintah daerah menggelar kirab pusaka dengan berjalan kaki tanpa alas kaki sejauh kurang lebih tiga kilometer.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin atau akrab disapa Mas Ipin, bersama sejumlah pejabat daerah, mengikuti langsung prosesi tersebut, Senin (31/8/2026).
Kirab dimulai dengan rangkaian prosesi budaya dan berakhir di Pendopo Manggala Praja. Para peserta baru mengenakan alas kaki setelah tiba di depan gapura pendopo.
Prosesi tersebut mengusung tema “Hambeging Bumi”, yang dimaknai sebagai upaya meneladani sifat bumi sebagai tempat berpijak sekaligus sumber kehidupan.
Bagi Mas Ipin, berjalan tanpa alas kaki bukan sekadar bagian dari prosesi. Tindakan tersebut menjadi simbol tirakat dan pengingat bagi para pemimpin agar kembali memahami hubungan manusia dengan bumi.
“Kami mengambil tema Hambeging Bumi, agar kita berusaha mempelajari dan mendalami sifatnya bumi dan akan kembali ke bumi. Makanya tadi dilakukan kirab semuanya jalan kaki,” kata Mas Ipin.
Nuansa Hari Jadi semakin kuat karena pelaksanaan tahun ini bertepatan dengan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam prosesi tersebut, pembacaan mahalul qiyam dilakukan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan. Sedekah hasil bumi dari masyarakat, khususnya kelompok tani, juga menjadi bagian penting dalam peringatan tersebut.
Berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan hingga tumpeng dibawa dalam rangkaian kirab dan kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Mas Ipin mengatakan, keterlibatan petani dalam kegiatan tersebut cukup tinggi. Bahkan, menurutnya, banyak petani ingin ikut membawa hasil bumi sebagai bentuk partisipasi sekaligus sedekah.
“Kemarin saya malam masih melihat persiapannya, kepala dinas sampai mengembalikan beberapa pick up karena hampir semua petani ingin ikut, ingin terlibat. Karena petani juga percaya ini bagian dari sedekahnya,” ujarnya.
Bagi masyarakat Trenggalek yang sebagian besar wilayahnya memiliki basis pertanian, momentum tersebut menjadi penting. Terlebih, sejumlah lahan pertanian saat ini menghadapi persoalan kekurangan air akibat kondisi kemarau.
Para petani pun menyampaikan harapan agar pemerintah dapat membantu menyediakan pasokan air atau menghadirkan solusi teknis untuk lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
Persoalan air menjadi salah satu perhatian yang disampaikan Mas Ipin dalam momentum Hari Jadi tersebut.
Ia berharap sedekah hasil bumi yang dilakukan masyarakat diikuti dengan upaya nyata untuk membantu lahan pertanian yang mengalami kesulitan air.
Menurutnya, pemerintah daerah telah melakukan sejumlah langkah teknis, termasuk pembangunan sumur dalam melalui perangkat daerah terkait.
“Saya juga berharap semoga sedekahnya segera dijawab, segera persawahan-persawahan yang saat ini kesulitan air semoga nanti bisa segera mendapatkan air dari sumber-sumber air, baik yang diupayakan secara teknis dengan membuat pembangunan atau pembuatan sumur-sumur dalam,” tuturnya.
Mas Ipin menyebut pembangunan sumur dalam telah dilakukan di sejumlah lokasi dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu kebutuhan air pertanian.
Namun, ia juga menyadari bahwa persoalan kekeringan tidak seluruhnya dapat diselesaikan hanya dengan intervensi pemerintah. Karena itu, doa dan ikhtiar masyarakat tetap berjalan beriringan.
Di tengah kondisi kemarau, harapan agar hujan segera turun menjadi salah satu pesan kuat dalam peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek.
Mas Ipin berharap hujan yang turun nantinya bukan hanya mengakhiri kekeringan, tetapi membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya petani yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.
“Semoga Allah memberikan rezekinya berupa hujan, hujan membawa berkah, membawa manfaat untuk kita semua,” katanya.
Ia juga menyampaikan doa yang lebih luas untuk Indonesia agar menjadi negeri yang aman, tenteram dan mendapat keberkahan.
Menurut Mas Ipin, peringatan Hari Jadi tahun ini pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Namun, karena bertepatan dengan Maulid Nabi, rangkaian kegiatan mendapatkan sentuhan keagamaan yang lebih kuat.
“Makanya kita tadi membaca mahalul qiyam di tengah prosesi Hari Jadi dan disunahkan bersedekah, dan tadi juga menyebar udik-udik,” ujarnya.
Selain sedekah hasil bumi, masyarakat juga mendapatkan bibit tanaman buah sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Hari Jadi.
Bibit yang dibagikan antara lain durian, alpukat, rambutan, mangga dan belimbing. Bibit tersebut disebut merupakan jenis unggul yang diharapkan dapat dikembangkan masyarakat.
Pemberian bibit tersebut sekaligus memperkuat pesan “Hambeging Bumi” yang menjadi tema utama peringatan Hari Jadi.
Bumi tidak hanya dipandang sebagai tempat berpijak, tetapi juga sebagai sumber pangan, sumber air dan ruang kehidupan yang harus dirawat.
Rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek akhirnya mempertemukan sejumlah pesan dalam satu momentum: sejarah melalui kirab pusaka, nilai keagamaan melalui Maulid Nabi dan mahalul qiyam, kehidupan masyarakat melalui sedekah hasil bumi, serta kepedulian lingkungan melalui tema “Hambeging Bumi”.
Prosesi tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama istrinya.
Bagi Trenggalek, peringatan 832 tahun bukan sekadar penanda panjangnya perjalanan sebuah daerah. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan harus tetap berpijak pada kondisi masyarakat dan lingkungan.
Terlebih bagi para petani yang saat ini masih berhadapan dengan persoalan ketersediaan air.
Hambeging Bumi pada akhirnya bukan hanya tentang berjalan tanpa alas kaki. Ia menjadi pesan bahwa manusia hidup dari bumi, menggantungkan kehidupan pada air dan hasil tanah, sehingga menjaga alam sekaligus memastikan masyarakat tetap mendapatkan manfaatnya merupakan tanggung jawab bersama.
(Yoyok)




