Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Puluhan ribu masyarakat dari berbagai daerah memadati Kota Pasuruan dalam rangka menghadiri Puncak Haul Akbar ke-45 Al-Maghfurlah KH. Abdul Hamid bin Abdullah Umar (Mbah Hamid), Sabtu (22/8/2026).

Sejak pagi, arus kedatangan jemaah terlihat meningkat di sejumlah ruas jalan menuju kawasan Pondok Pesantren Salafiyah, kompleks makam Mbah Hamid, hingga Alun-Alun Kota Pasuruan. Jemaah datang tidak hanya dari wilayah Pasuruan dan Jawa Timur, tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota.
Kehadiran puluhan ribu jemaah tersebut membuat suasana Kota Pasuruan berubah menjadi lautan manusia. Berbagai fasilitas untuk menyambut jemaah juga disiapkan, mulai dari tenda, posko pelayanan, tempat istirahat, hingga titik pembagian makanan dan minuman.
Puncak rangkaian haul berlangsung setelah sebelumnya jemaah mengikuti sejumlah kegiatan keagamaan, termasuk pembacaan Maulid Al-Habsyi pada Jumat (21/8/2026).
Bagi masyarakat yang datang, haul bukan sekadar kegiatan keagamaan tahunan. Momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi, berdoa, serta mengenang perjuangan dan keteladanan Mbah Hamid yang dikenal luas oleh masyarakat.
Salah satu jemaah asal Sampang, Madura, Hamdi, mengaku sengaja datang ke Pasuruan untuk mengikuti Haul Mbah Hamid. Ia mengatakan, suasana haul tahun ini sangat ramai, namun tetap menjadi pengalaman tersendiri bagi para jemaah.
“Saya datang dari Sampang bersama keluarga. Memang ramai sekali, tetapi kami senang bisa hadir dan ikut mendoakan Mbah Hamid. Bagi kami, datang ke haul ini bukan hanya soal perjalanan, tetapi juga untuk mencari keberkahan dan bersilaturahmi dengan sesama jemaah,” ujar Hamdi.
Menurutnya, banyaknya masyarakat yang hadir menunjukkan bahwa Haul Mbah Hamid masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat dari berbagai daerah.

Di tengah kepadatan jemaah, momentum haul ternyata juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya para pedagang yang berjualan di sekitar lokasi kegiatan.
Berbagai jenis dagangan terlihat memenuhi sejumlah titik yang menjadi akses jemaah. Mulai dari makanan dan minuman, pakaian, perlengkapan ibadah, oleh-oleh, hingga berbagai kebutuhan lainnya ditawarkan kepada para pengunjung.
Salah satu pedagang, Siti Aminah, mengaku momentum Haul Mbah Hamid menjadi salah satu kesempatan bagi dirinya untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
“Alhamdulillah, kalau ada haul seperti ini pembeli cukup banyak. Banyak jemaah yang datang dari luar kota dan biasanya membeli makanan, minuman atau kebutuhan lainnya. Bagi kami pedagang kecil, kegiatan seperti ini sangat membantu menambah pemasukan,” kata Siti Aminah.
Meski demikian, Siti berharap kondisi keramaian tetap diimbangi dengan pengaturan pedagang dan kebersihan lingkungan sehingga aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan tanpa mengganggu kenyamanan para jemaah.
Besarnya jumlah jemaah yang hadir juga membuat pengamanan dan rekayasa lalu lintas menjadi perhatian. Sejumlah petugas disiagakan di berbagai titik akses untuk mengatur pergerakan masyarakat dan kendaraan.
Selain itu, kendaraan besar roda enam diarahkan menggunakan jalur tol sebagai bagian dari rekayasa lalu lintas guna mengurangi kepadatan di kawasan pusat Kota Pasuruan.
Pemerintah dan aparat keamanan juga menyiapkan sejumlah titik pengamanan serta pelayanan untuk mengantisipasi kepadatan selama rangkaian haul berlangsung.
Haul ke-45 Mbah Hamid pada akhirnya tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi puluhan ribu jemaah. Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar juga menghidupkan aktivitas ekonomi warga sekitar.
Bagi jemaah, haul menjadi ruang untuk berdoa, bersilaturahmi dan mengenang keteladanan Mbah Hamid. Sementara bagi masyarakat kecil seperti pedagang, ramainya kunjungan menjadi berkah tersendiri untuk menambah penghasilan.
Di tengah lautan manusia yang memenuhi Kota Pasuruan, Haul Mbah Hamid kembali memperlihatkan perpaduan antara tradisi keagamaan, kebersamaan masyarakat dan geliat ekonomi warga.
(Moel)




