MALANG, Suararakyat62.com

Karnaval Sound Horeg yang digelar di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Minggu (28/6/2026), dan diikuti sekitar 22 peserta, kembali memunculkan dilema sosial. Di tengah antusiasme ribuan warga yang telah menantikan perhelatan tahunan tersebut, kabar duka datang dari seorang warga lanjut usia berinisial R, warga RT 06 RW 02 Desa Sanankerto, yang meninggal dunia sebelum acara berlangsung.
Situasi ini menempatkan pemerintah desa pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, masyarakat sedang berduka atas meninggalnya salah seorang warga. Di sisi lain, karnaval yang telah dipersiapkan jauh hari menjadi agenda yang dinantikan masyarakat, tidak hanya dari Sanankerto tetapi juga dari berbagai wilayah di Malang Raya.
Kondisi tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara pelestarian tradisi, penghormatan terhadap suasana duka, dan tanggung jawab penyelenggara dalam mempertimbangkan aspek sosial di tengah masyarakat. Selain itu, penyelenggaraan Sound Horeg selama ini juga tidak lepas dari polemik. Salah satu isu yang terus menjadi sorotan adalah dampak kebisingan ekstrem yang dihasilkan sistem audio berdaya tinggi.
Berbagai literatur kesehatan menyebutkan bahwa paparan suara dengan intensitas tinggi secara terus-menerus berpotensi mengganggu pendengaran, memicu stres, mengganggu sistem saraf, meningkatkan tekanan darah, hingga berdampak pada kelompok rentan seperti lansia, bayi, dan penderita penyakit tertentu. Karena itu, penyelenggaraan kegiatan serupa dinilai tidak cukup hanya mempertimbangkan aspek hiburan dan tradisi.
Pengaturan tingkat kebisingan, keselamatan peserta dan penonton, serta dampaknya terhadap lingkungan sosial dan kesehatan masyarakat perlu menjadi perhatian serius.Tragedi maupun suasana duka yang menyertai pelaksanaan sebuah kegiatan publik seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pihak.
Tradisi tetap dapat dilestarikan, namun pelaksanaannya harus mengedepankan empati, keselamatan, serta kepentingan masyarakat secara luas agar tidak terus memunculkan polemik setiap kali digelar.
Mak Ila




