Morotai, SuaraRakyat62.com — Kisah mengharukan saat anak korban menceritakan sang Ayah dan Ibunya terseret dari arus banjir sepulangnya dari kebun menggunakan rakit terbuat dari batang pisang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Terseret Banjir, Sang Anak di Morotai Bercita-cita Dokter Kehilangan Ayah Ibu

Pasangan Suami (Pasturi) Armeng Rajab (52 tahun) bersama istrinya, Dastrince Menanti (54 tahun) meninggal dunia saat menyeberangi sungai dengan rakit batang pisang pekan lalu. Kala itu keduanya baru pulang kebun.

Keduanya hanyut bersama anak mereka yang berusia 8 tahun. Namun sang anak berhasil diselamatkan pamannya. Tak lama setelah itu, korban Pasutri ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Pasutri meninggalkan tiga anaknya, Rifandis Welem Rajab (26 tahun), Marsyah Rajab (13 tahun) dengan status sekolah SMP BPD Pulau Morotai. Ia bercita-cita menjadi seorang sarjana kelak nanti di Universitas Pasifik Morotai.

Kemudian Risya Rajab (8 tahun) yang menyaksikan Ayah dan Ibu nya saat terseret arus banjir, Risya bercita-cita dokter itu tak kuasa menahan haru dan tangis kehilangan harapan orang tersayang.

Marsya sang kakak Risya kepada media ini, menceritakan detik-detik banjir menyeret ia bersama ayah dan ibu nya.

Saat pagi itu adik Risya ikut ke kebun bersama ayah ibu pergi ke kebun demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah.

Meski hujan disertai angin. Setibanya di kebun, kejadian pada Kamis 24 April 2025 pukul 15.10 WIT sore, siapa sangka banjir terlihat tampak surut, mereka kembali ke kampung menggunakan rakit batang pisang menyeberangi sungai.

Tiba-tiba arus banjir mengumbang ambing batang pisang. Risya selamat dari peristiwa. Namun kedua orang tua kehilangan nyawa.

“Pas waktu pulang dari kebun begini, arus banjir dia bawa (seret) tong punya rakit ke arus yang kuat. Saya papa deng mama banjir bawa,” ungkap Risya yang diceritakan sang kakaknya, Minggu (4/5/2025)

Menurut Risya, saat itu banjir menyeret mereka. Ayahnya berjuang berusaha menyelamatkan ia dan ibunya. Namun melawan arus banjir bukanlah hal yang muda mengakibatkan terbawa banjir.

“Papa berusaha kase selamat saya deng mama, papa bertahan di batang kelapa, tapi karena arus terlalu kencang papa terputar di arus. Dan banjir bawa papa,” ujarnya.

Saat itu, Risya tak berdaya berada di balik rakit menyaksikan ayahnya terbawa arus banjir, tiba-tiba ibu terlepas dari genggaman rakit kemudian terseret banjir juga.

“Terus saya deng mama berada di belakang batang pisang (rakit), liat papa sudah terseret banjir, terus mama juga talapas dari batang pisang terus mama deng papa terbawa arus banjir,” kata Risya sembari menangis.

Arus banjir juga menyeret Risya dari batang pisang, beruntung ia diselamatkan pamannya yang kebetulan berada di kebun lokasi kejadian.

“Stelah mama terseret, saya juga terbawa banjir dan ter tatahan di batang kayu, terus onco (paman) kase selamat saya, tapi mama deng papa sudah anyor, sampai disitu saya sudah tidak lihat lagi papa deng mama,” ucapnya.

Dari peristiwa itu, Risya bersama kakak nya berharap ayah dan ibu mereka selamat. Namun harapan mendatangi sebuah kabar, bahwa ayah dan ibu mereka ditemukan meninggal dunia.

“Saya dengar dapa mama di pantai sudah meninggal. Terus papa sampai hari ini belum dapa, tapi ada yang kase tau kalau papa juga meninggal dunia, kami pun tidak berdaya betapa ujian begitu berat hanya seketika papa deng mama kasetinggal torang,” imbuhnya.

“Padahal kami berharap hanya papa deng mama, semua sudah punya cita-cita kalau Risya cita-cita dokter, kalau kaka Marsya mau kuliah di UNIPAS Jurusan Akuntansi,” tandasnya.

 

Pewarta ; Nyong_Irjan