Gresik, SuaraRakyat62.com – Kondisi pendopo utama Alun-Alun Gresik kian memprihatinkan. Plafon bangunan yang menjadi ikon ruang publik ini mengalami kerusakan parah hingga ambrol di beberapa bagian. Ironisnya, belum ada tindakan perbaikan yang terlihat di lapangan, meski area tersebut masih ramai digunakan warga untuk bermain dan berolahraga.

Pemandangan ini memicu kekhawatiran publik, termasuk jajaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gresik. Wakil Ketua III DPRD Gresik, Abdullah Hamdi, menyebut pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi dan menyampaikan temuan tersebut kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik.
“Sudah pernah kita sidak dan sudah berkoordinasi dengan DLH untuk segera diperbaiki. Kemungkinan dalam waktu dekat ini akan dilakukan perbaikan,” ujar Hamdi saat dikonfirmasi melalui sambungan telpon seluler, Selasa (13/5).
Hamdi menyoroti pentingnya evaluasi kualitas pekerjaan proyek terdahulu. Menurutnya, kerusakan plafon ini mencerminkan lemahnya kualitas konstruksi, yang berpotensi membahayakan keselamatan warga.
“Kami berharap kualitas pekerjaan diperhatikan. Kalau ada kebocoran atap, itu harus ditangani dulu sebelum plafon dipasang ulang. Jangan sampai perbaikan hanya bersifat tambal sulam,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala DLH Gresik, Sri Subaidah, memastikan perbaikan akan dilakukan pada Juli mendatang. Ia juga mengimbau warga agar menjaga fasilitas umum yang ada, khususnya di area lantai atas pendopo.

“Kami mohon masyarakat tidak menggunakan lantai atas untuk bermain sepak bola. Kalau bola mengenai plafon, bisa merusak semuanya,” terangnya.
Pantauan SuaraRakyat62.com di lokasi menunjukkan bagian plafon tengah pendopo yang ambrol memperlihatkan rangka baja ringan dan susunan genteng. Meski terlihat membahayakan, area tersebut masih tetap digunakan oleh masyarakat, bahkan oleh anak-anak yang bermain tanpa pengawasan.
Kondisi ini menyoroti pentingnya tanggung jawab pemerintah daerah dalam merawat fasilitas publik, bukan hanya membangun. Alun-Alun Gresik adalah wajah kota. Ketika simbol kota rusak dan dibiarkan, itu bukan hanya soal estetika, tapi juga soal keselamatan.
Penulis ; Iyud




