Enam gunung api erupsi dalam waktu yang berdekatan. Gunung-gunung itu tentu tidak mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan alasan mereka. Tidak ada juru bicara magma, tidak ada siaran pers dari dapur bumi, apalagi unggahan klarifikasi di media sosial. Namun manusia rupanya tidak tahan melihat peristiwa alam tanpa segera mencari siapa yang harus disalahkan. Dalam kegaduhan itu, istilah “antek asing” pun ikut beredar.

Nama Ulta Levenia Nababan kemudian muncul di tengah kegaduhan tersebut. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden itu melalui akun media sosial pribadinya membicarakan HAARP, enam gunung api yang erupsi, dan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia menyebut unggahannya sebagai pemikiran pribadi dan mengakui bahwa belum ada bukti ilmiah yang kredibel untuk dugaan tersebut. Ia mengatakan, “otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran”. Jadi, sejak awal memang ada catatan bahwa yang sedang dibicarakan adalah dugaan, bukan kesimpulan ilmiah.
Skeptis bukan dosa. Bertanya juga bukan kejahatan. Ilmu pengetahuan justru tumbuh karena manusia berani mempertanyakan segala sesuatu. Masalahnya muncul ketika sebuah kemungkinan yang belum mempunyai bukti mulai ditempatkan hampir sejajar dengan penjelasan yang telah ditopang data. Apalagi ketika kemungkinan itu kemudian dikaitkan dengan pertemuan politik yang sama sekali tidak memiliki hubungan kausal yang terbukti dengan aktivitas vulkanik. Pertanyaan yang kemudian beredar dari pernyataan tersebut kurang lebih berbunyi, mengapa setelah Presiden Prabowo bersalaman dengan Putin di Vladivostok, enam gunung api Indonesia erupsi. Sekilas, susunan peristiwa seperti itu memang menggoda imajinasi. Ada presiden, ada Rusia, ada teknologi rahasia, ada gunung meletus. Tinggal menambahkan musik latar film spionase dan beberapa garis merah pada peta dunia.
Masalahnya, kalender justru merusak dramanya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat enam gunung yang dimaksud, mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Keenamnya adalah Gunung Ibu di Maluku Utara, Semeru di Jawa Timur, Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Sinabung di Sumatera Utara. Sementara pertemuan bilateral Prabowo dan Putin berlangsung di Vladivostok pada 3 September 2026. Dengan demikian, jika yang dimaksud adalah enam erupsi pada 31 Agustus, gunung-gunung tersebut sudah lebih dahulu meletus sebelum kedua kepala negara bertemu. Ini seperti menuduh seseorang menyebabkan kecelakaan pada hari Kamis karena ia bertemu korban pada hari Jumat. Mungkin saja ada hubungan lain. Tapi hubungan itu harus dibuktikan. Dalam ilmu pengetahuan, urutan kejadian tidak otomatis menjadi hubungan sebab-akibat. Kalau setiap peristiwa yang terjadi sebelum sebuah pertemuan dianggap disebabkan oleh pertemuan tersebut, sejarah manusia akan dipenuhi rapat yang dituduh sebagai penyebab berbagai bencana.
Lalu datanglah HAARP. Nama lengkapnya High-frequency Active Auroral Research Program. Namanya memang terdengar seperti sesuatu yang sangat cocok menjadi tokoh antagonis dalam film fiksi ilmiah. Tapi HAARP merupakan fasilitas penelitian ionosfer. Sistem diagnostiknya dapat digunakan untuk merekam fenomena atmosfer, termasuk sinyal infrasonik yang berkaitan dengan aktivitas seperti erupsi gunung api. Ada sebuah ironi di sini. Sesuatu yang dapat digunakan untuk mendengarkan suara gunung meletus kemudian dibayangkan sebagai pihak yang menyuruh gunung meletus. Logikanya seperti menuduh Closed-Circuit Television (CCTV) sebagai pelaku pencurian karena kamera itu berada di tempat ketika pencurian terjadi. Atau menyalahkan termometer karena selalu muncul ketika seseorang sedang demam. Barang yang hadir bersamaan dengan suatu peristiwa kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi tersangka.
Padahal gunung api mempunyai urusan yang jauh lebih tua daripada negara, presiden, konferensi bilateral, dan pertemuan diplomatik. Erupsi berkaitan dengan proses di dalam sistem vulkanik, termasuk pergerakan magma, tekanan gas, sifat magma, dan kondisi batuan di sekitarnya. Ketika kondisi fisiknya memungkinkan, magma dan gas bergerak menuju permukaan dan menghasilkan erupsi. Mekanisme ini merupakan bagian dari dasar pengetahuan vulkanologi (https://www.usgs.gov/faqs/how-do-volcanoes-erupt). PVMBG sendiri memberikan penjelasan yang jauh lebih sederhana. Enam gunung tersebut mempunyai sistem vulkanik masing-masing. Tidak ditemukan bukti bahwa keenam erupsi pada 31 Agustus itu merupakan satu rangkaian yang dikendalikan oleh satu proses geologi. Indonesia juga memiliki banyak gunung api aktif, sehingga beberapa gunung mengalami erupsi pada waktu yang berdekatan bukan dengan sendirinya menunjukkan adanya satu pengendali di balik semuanya.
Hubungan antara gempa dan aktivitas gunung api pun tidak sesederhana menekan tombol lalu gunung meletus. Gempa tertentu, dalam kondisi tertentu, memang dapat memengaruhi sistem vulkanik yang sudah berada dalam keadaan siap. USGS menjelaskan bahwa gempa tektonik besar dapat meningkatkan kemungkinan erupsi pada gunung yang memang sudah berada dalam kondisi siap meletus, tetapi mekanismenya bergantung pada kondisi sistem magmanya (https://www.usgs.gov/faqs/can-earthquakes-trigger-volcanic-eruptions). Lebih jauh lagi, USGS menyatakan tidak ada bukti definitif bahwa erupsi sebuah gunung dapat memicu erupsi gunung lain yang berjarak ratusan kilometer atau berada di benua berbeda. Ada kasus gunung-gunung yang berdekatan dan memiliki sistem magma yang saling berhubungan, tetapi itu berbeda dengan menganggap beberapa gunung yang berjauhan sebagai bagian dari satu mekanisme tersembunyi (https://www.usgs.gov/faqs/can-eruption-one-volcano-trigger-eruption-another-volcano).
Ilmu pengetahuan memang menyebalkan karena meminta manusia melakukan pekerjaan yang membosankan. Data musti dikumpulkan. Hipotesis harus diuji. Kesalahan terus dicari. Hubungan sebab-akibat diperiksa. Kalau dugaan tidak terbukti, dugaan itu ditinggalkan. Tidak ada aturan ilmiah yang mengatakan bahwa semakin sedikit buktinya maka semakin rahasia pula konspirasinya. Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api juga tidak terlalu membutuhkan cerita tentang siapa yang mengendalikan gunung dari balik layar. Mereka membutuhkan informasi tentang status gunung, wilayah bahaya, perkembangan aktivitas, potensi material erupsi, dan apa yang harus dilakukan ketika kondisi memburuk. Pemantauan PVMBG dan rekomendasi keselamatan justru menyentuh kebutuhan yang nyata itu.
Gunung tidak tahu Prabowo sedang bertemu Putin. Gunung juga tidak tahu siapa yang sedang duduk di Gedung Putih, Kremlin, atau Zhongnanhai. Ia tidak membaca berita, tidak mengikuti survei politik, dan tidak punya kepentingan terhadap hubungan Indonesia dengan negara mana pun. Magma tidak punya paspor. Gas vulkanik tidak mengenal blok geopolitik. Rekahan batuan tidak menunggu hasil pertemuan bilateral. Yang lebih menggelitik adalah kecenderungan manusia mencari manusia lain di balik segala sesuatu. Hujan terlalu deras, pasti ada yang mengatur. Banjir terlalu besar, pasti ada yang bermain. Gunung meletus, pasti ada yang menekan tombol. Seolah-olah alam tidak boleh memiliki mekanismenya sendiri. Seolah-olah setiap perubahan tekanan, pergerakan magma, dan rekahan batuan harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan seseorang di sebuah ruangan.
Di titik itu, Levenia justru lebih tepat dilihat sebagai cermin daripada sebagai “tersangka publik”. Ia memperlihatkan kecenderungan yang jauh lebih luas daripada dirinya sendiri. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang rumit, manusia sering lebih nyaman mencari pelaku daripada memahami proses. Alam terlalu rumit, maka adanya seorang tersangka terasa lebih sederhana. Ada nama, motif, dan cerita. Tinggal ditambahkan panah merah dan lingkaran pada sebuah foto. Mungkin bukan alam yang semakin asing bagi manusia. Manusialah yang semakin asing terhadap alam. Kita hafal aplikasi cuaca tetapi tidak memahami cuaca. Kita bisa melihat gunung meletus melalui layar ponsel, tetapi tidak selalu memahami mengapa gunung tersebut meletus. Kita tinggal di bumi, tetapi sering bersikap seperti turis yang baru pertama kali datang.
Jangan-jangan kita dan alam memang telah lama menjadi orang asing. Gunung dianggap objek wisata ketika tenang dan ancaman ketika meletus. Sungai dianggap pemandangan ketika bersih dan musuh ketika meluap. Hutan dianggap sumber ekonomi selama masih bisa dimanfaatkan. Ketika alam bergerak di luar kenyamanan manusia, kita buru-buru mencari pihak lain yang bisa disalahkan. Karena itu, pertanyaan yang lebih layak bukan siapa yang mengendalikan enam gunung api dari balik layar, melainkan mengapa manusia begitu mudah menganggap alam tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri. Bumi telah bekerja selama miliaran tahun tanpa membutuhkan manusia sebagai komentator. Manusia baru muncul belakangan, lalu merasa dirinya cukup penting untuk menjelaskan segala sesuatu berdasarkan kepentingannya sendiri.
Kalau suatu hari benar-benar ditemukan bukti bahwa teknologi manusia mampu memicu erupsi gunung api dari jarak jauh, tentu persoalannya berbeda. Temuan semacam itu harus diteliti secara serius. Tapi sebelum bukti tersebut ada, HAARP tetaplah fasilitas penelitian ionosfer, gunung tetap gunung, dan erupsi tetap harus dijelaskan melalui data vulkanologi. Menghubungkan sebuah fasilitas penelitian dengan erupsi hanya karena namanya terdengar misterius adalah cara yang terlalu mahal untuk membeli kesimpulan yang terlalu murah. Sebab pada akhirnya gunung tidak membutuhkan tersangka. Gunung membutuhkan manusia yang mengerti kapan harus mendekat, kapan harus menjauh, dan bagaimana hidup berdampingan dengan proses alam yang tidak pernah berhenti. Yang membutuhkan tersangka justru manusia, terutama ketika manusia tidak nyaman menerima kenyataan bahwa tidak semua hal terjadi karena seseorang merencanakannya.
Jadi kalau masih ingin mencari orang asing, pencariannya mungkin tidak perlu sampai ke Washington, Moskow, atau fasilitas HAARP. Cukup lihat hubungan manusia dengan tanah tempat ia berpijak. Jangan-jangan manusia sendiri yang telah menjadi orang asing di rumahnya. Alam tidak berubah menjadi asing. Manusialah yang perlahan-lahan menjauh, yang semakin canggih membuat teknologi tetapi semakin sering bingung menghadapi kenyataan bahwa bumi tidak bekerja berdasarkan teori manusia.
Kalau masih ingin mencari tersangka, silakan! Tapi sebelum menunjuk orang asing di luar sana, mungkin lebih baik menengok ke dalam diri sendiri. Bisa jadi yang paling asing bukanlah mereka yang berada jauh di luar sana, melainkan manusia yang sudah terlalu lama menjauh dari alam yang setiap hari memberinya kehidupan. Dan gunung, seperti biasa, tidak ikut berdebat. Atau membuat konferensi pers.(**)




