SuaraRakyat62.com – Kajian&Opini

Oleh: Hancel Goru Dolu
Ada manusia yang pergi dari rumah untuk mencari hidup, lalu menemukan bahwa jalan pulang ternyata jauh lebih panjang daripada jalan ketika berangkat. Lionel Messi adalah salah satu kisah seperti itu. Ia meninggalkan Rosario ketika masih sangat muda. Tumbuh di Barcelona, menjadi pemain yang dikenal di seluruh dunia, memenangkan hampir segala sesuatu yang mungkin dimenangkan seorang pesepak bola. Tapi setiap kali kembali mengenakan jersey Argentina, ia seperti harus memulai dari awal.
Dunia sudah percaya kepadanya, tetapi rumah sendiri membutuhkan waktu. Mungkin itulah sebabnya Peter Drury, bertahun-tahun kemudian, masih menyebutnya dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada semua gelarnya, “The little boy from Rosario.” Anak kecil dari Rosario. Di balik 207 penampilan, 125 gol, 68 assist, enam Piala Dunia dan sebelas final bersama tim nasional, masih ada anak yang pergi dari rumah dan belum sepenuhnya tahu apakah suatu hari rumah itu akan mengenalinya kembali.
Messi memilih Argentina ketika Spanyol juga membuka pintu. Ia memilih negeri yang bahkan belum sepenuhnya memahami siapa dirinya. Pilihan itu kelak menjadi penting, sebab ada perbedaan besar antara lahir di sebuah negeri dan merasa diterima oleh negeri itu. Messi tidak banyak bicara tentang pilihannya. Ia hanya datang, bermain, dan terus datang lagi. Tetapi Argentina sudah memiliki seorang sosok lain yang telah berubah menjadi mitologi. Diego Maradona bukan lagi sekadar pemain yang pernah memenangkan Piala Dunia. Ia adalah karisma yang telah mengendap menjadi ingatan kolektif, menjadi nyanyian di tribun, mural di dinding, nama yang disebut dalam doa, bahkan punya sekte sendiri. Maradona membawa Argentina menjadi juara dunia pada 1986 dan sejak itu setiap nomor 10 yang datang sesudahnya harus berjalan di bawah bayang-bayang seseorang yang seolah terlalu besar untuk digantikan. Messi tidak hanya mewarisi nomor itu. Ia mewarisi pertanyaan!
Apakah ia cukup Argentina? Pertanyaan itu terasa ganjil jika ditujukan kepada pemain yang sejak awal memilih Argentina. Tetapi sepak bola sering kali tidak adil kepada manusia yang terlalu hebat. Pada 2005 Messi membawa Argentina menjadi juara dunia U-20. Pada 2007 ia mencapai final Copa América dan kalah dari Brasil. Pada 2008 ia memenangkan emas Olimpiade. Kemudian datang Piala Dunia 2014 di Brasil, final di Maracanã, dan kekalahan dari Jerman pada perpanjangan waktu. Copa América 2015 berakhir dengan Chile menang melalui adu penalti. Copa América Centenario 2016 mengulang luka yang sama. Messi gagal dalam adu penalti, Argentina kembali kalah, dan ia mengumumkan bahwa dirinya berhenti dari tim nasional. Empat final besar yang berakhir dengan tangan kosong membuat pemain yang di Barcelona sudah dianggap seperti makhluk dari dunia lain itu pulang ke rumah dengan sesuatu yang sangat manusiawi, rasa kecewa.
Di luar semua itu, ada Cristiano Ronaldo. Jika Maradona adalah bayang-bayang masa lalu, Ronaldo adalah manusia yang berdiri di seberang Messi pada zaman yang sama. Mereka seperti dua sungai yang terus mengalir berdampingan dan membuat dunia sibuk mengukur kedalaman masing-masing. Barcelona dan Real Madrid, gol dan assist, Ballon d’Or dan Sepatu Emas, Liga Champions dan rekor-rekor yang terus bergeser. Ronaldo membangun dirinya dengan kerja, tubuh, disiplin, dan ambisi yang seperti tidak mengenal kata cukup. Messi bermain dengan intuisi yang membuat gerakan sulit terlihat sebagai pekerjaan mudah. Mereka berbeda, tetapi justru karena itulah mereka saling menyempurnakan sebagai rival. Dunia bertahun-tahun bertanya siapa yang lebih hebat, seolah-olah dua manusia luar biasa harus selalu dipaksa memilih satu pemenang. Padahal mungkin keberuntungan generasi mereka justru terletak pada kenyataan bahwa keduanya hadir bersamaan. Ronaldo membuat Messi terus bergerak. Messi membuat Ronaldo terus mengejar. Dan ketika kelak keduanya semakin dekat ke akhir perjalanan, barulah terasa betapa panjang zaman yang telah mereka kuasai.
Namun urusan Messi yang paling sulit bukan dengan Ronaldo. Bukan pula dengan Maradona. Urusan terberatnya adalah dengan rumahnya sendiri. Pada 2016 ia sempat pergi. Tetapi ia kembali. Dan kepulangan itu mungkin merupakan bagian terpenting dari seluruh ceritanya. Sebab setelah kegagalan, manusia biasanya mempunyai dua pilihan yang sama-sama berat. Pergi untuk selamanya atau kembali ke tempat yang membuatnya terluka. Messi menjalani yang kedua. Ia tidak kembali dengan pidato besar. Ia kembali dengan latihan, pertandingan, operan, gol, dan kesempatan berikutnya. Perlahan, sesuatu berubah. Pablo Aimar, idola masa kecil Messi, menjadi bagian dari lingkungan sepak bola yang memahami Messi bukan sebagai simbol yang harus dipaksa menjadi orang lain, melainkan sebagai pemain yang harus diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Lionel Scaloni kemudian membangun Argentina yang berbeda. Ángel Di María tetap di sana, membawa luka-luka lama mereka bersama. Emiliano Martínez di garis belakang, membawa keberanian yang membuat Messi tidak harus selalu menjadi orang yang menyelamatkan semua keadaan.
Di María adalah salah satu nama yang paling indah untuk disebut ketika kita membuka kembali perjalanan itu. Ia mencetak gol di final Olimpiade 2008, kemudian bertahun-tahun setelahnya mencetak gol kemenangan di final Copa América 2021 melawan Brasil di Maracanã. Ia mencetak gol dalam Finalissima 2022 dan kembali mencetak gol di final Piala Dunia 2022. Ia tak ada dalam list skuad Final 2014 dan 2026. Hal mana menyisakan “what if” dalam kisah sepakbola jikalau pemilik nomor 11 ini turut serta dalam skuad. Di antara dua pemain itu ada sejarah yang panjang, termasuk terlalu banyak malam ketika mereka pulang tanpa trofi. Tetapi ada sesuatu yang berubah ketika Argentina akhirnya memenangkan Copa América 2021. Messi tidak lagi pulang dengan tangan kosong. Untuk pertama kalinya dalam karier seniornya, ia membawa pulang trofi bersama Argentina. Barangkali trofi itu tidak sebesar Piala Dunia, tapi bagi seorang manusia yang berkali-kali pulang dari final dengan kekalahan, sebuah kemenangan kecil bisa terasa seperti pintu pertama yang akhirnya terbuka.
Kemudian Finalissima 2022 datang seperti tanda bahwa sesuatu benar-benar telah berubah. Argentina mengalahkan Italia di Wembley. Messi bermain bukan lagi sebagai anak yang mengejar pengakuan. Tapi sebagai seorang pemimpin yang mulai menikmati permainan bersama orang-orang yang mempercayainya. Lalu Qatar memanggil. Piala Dunia itu menjadi perjalanan terakhir menuju puncak yang selama bertahun-tahun terasa selalu menjauh. Argentina kalah dari Arab Saudi pada pertandingan pertama, tapi kemudian bangkit. Messi mencetak gol, memberikan assist, memimpin, dan membawa mereka melewati Meksiko, Polandia, Australia, Belanda, Kroasia. Setiap kemenangan seperti membuka kembali halaman-halaman lama yang dulu berakhir terlalu cepat. Lalu datang Prancis.
Final Piala Dunia 2022 bukan sekadar pertandingan antara dua juara dunia. Bagi Messi, barangkali itu seperti pertemuan dengan seluruh masa lalunya. Ia sudah pernah berdiri di final Piala Dunia. Ia sudah pernah kalah di final Copa América. Ia pernah mengatakan selamat tinggal kepada Argentina. Ia pernah kembali. Ia sudah memenangkan Copa América, tapi Piala Dunia tetap berada di ujung jalan. Di Lusail, sebelum semuanya dimulai, Drury menggambarkan panggung itu sebagai pertemuan antara Messi yang menatap puncak terakhirnya dan Kylian Mbappé yang sedang mendaki menuju kebesarannya sendiri. Di satu sisi seorang lelaki yang mungkin sedang memainkan final terakhirnya. Di sisi lain seorang pewaris zaman yang ingin mengambil mahkota. Dan di antara keduanya berdiri Piala Dunia.
Argentina mencetak gol. Messi dari titik penalti. Di María kemudian mencetak gol yang indah. Dua gol yang membuat pertandingan seolah menuju akhir yang sudah ditulis. Tetapi sepak bola tidak pernah begitu baik kepada manusia yang berharap terlalu cepat. Prancis bangkit. Mbappé mencetak dua gol dalam waktu yang singkat di sepuluh menit terakhir laga. Pertandingan berubah. Argentina kembali unggul pada perpanjangan waktu setelah Messi mencetak gol keduanya. Mbappé menyamakan lagi via pinalti keduanya. 3-3. Bahkan setelah dua jam sepak bola, pertandingan masih belum mau memilih siapa yang berhak pulang sebagai juara. Lalu adu pinalti.
Emiliano Martínez berdiri di sana seperti seseorang yang tahu bahwa ada malam-malam ketika seorang penjaga gawang harus menjadi lebih besar daripada dirinya sendiri. Messi mencetak pinaltinya. Argentina terus maju. Prancis mulai kehilangan ruang untuk bernapas. Dan kemudian datang Gonzalo Montiel. Seorang pemain yang memulai pertandingan dari bangku cadangan, kini berjalan membawa seluruh negeri di belakangnya. Drury menyebutnya “A long, lonely walk”, sebuah perjalanan panjang dan sunyi. Montiel berjalan. Menendang. Bola masuk. Dan pada detik itu, setelah dua puluh tahun perjalanan, sesuatu yang telah lama terasa mustahil akhirnya menjadi nyata.
“Argentina, champions of the world. Again. At last.” Again. At last. Lagi. Akhirnya. Dua kata itu seperti seluruh kisah Messi yang dipadatkan menjadi satu tarikan napas. Lagi, karena ia sudah mencoba berkali-kali. Akhirnya, karena tidak ada yang tahu berapa lama seseorang harus menunggu sebelum keberuntungan akhirnya berhenti berpaling. Drury kemudian mengingat Maradona dan Meksiko, tiga puluh enam tahun sebelumnya, lalu membayangkan lahirnya generasi baru para abadi Argentina. Ia menyebut Scaloni akan dikenang dan Messi akan disucikan. Tetapi yang paling menyentuh datang beberapa detik kemudian, ketika komentator itu mengucapkan, “Messi has conquered his final peak” dan menggambarkan sang kapten seolah baru saja berjabat tangan dengan surga.
Lalu kalimat itu kembali datang, kalimat yang membuat seluruh perjalanan seperti berhenti sejenak, “The little boy from Rosario, Santa Fe…” Anak kecil itu akhirnya tiba. Bukan di Barcelona. Bukan di Paris. Bukan di Miami. Bukan di stadion mana pun tempat ia pernah menjadi raja. Ia tiba di tempat yang sejak awal ingin ia miliki. Di rumah. Drury menggambarkan Messi masuk ke galaksinya sendiri, memperoleh mahkota yang selama ini hilang, tetapi juga mengingatkan bahwa ia tidak sendirian. Di belakangnya ada Di María, Martínez, Scaloni, Aimar, para pemain muda. Sebuah tim yang akhirnya memahami bahwa cara terbaik membantu Messi bukan meminta dia menjadi penyelamat, melainkan membuatnya tidak perlu menyelamatkan semuanya sendirian.
Barangkali itulah yang membuat kemenangan Qatar terasa begitu dekat dengan kehidupan. Ada orang-orang yang pernah pergi membawa harapan besar, kemudian pulang dengan cerita yang tidak sesuai rencana. Ada yang pulang setelah pekerjaan gagal. Ada yang kembali setelah usaha yang dibangun bertahun-tahun runtuh. Ada yang pulang karena tidak punya pilihan lain. Dan sering kali, yang paling sulit bukan perjalanan itu sendiri, melainkan tatapan orang-orang yang sudah mengenal kita sebelum kita berangkat. Mereka mengingat siapa kita dulu. Mereka belum tentu melihat apa yang telah kita lalui. Kita mungkin sudah berubah, tetapi di mata rumah, kita masih anak yang dulu pergi. Messi mengalami sesuatu yang serupa dalam skala yang jauh lebih besar. Dunia sudah lama menganggapnya jenius. Tapi Argentina membutuhkan bertahun-tahun untuk melihatnya bukan sebagai pengganti Maradona. Bukan sebagai pemain Barcelona yang kebetulan mengenakan biru-putih. Melainkan sebagai Messi.
Dan setelah Qatar, anehnya, cerita belum selesai. Argentina memenangkan Copa América 2024. Messi masih bermain. Ia masih memberikan assist, masih mencetak gol, masih menjadi pusat permainan, tetapi waktu mulai mengambil sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan uang, trofi, atau bakat. Tubuh tidak lagi secepat dahulu. Pertandingan mulai meminta harga yang lebih mahal. Namun ia tetap kembali. Pada 2026 ia tampil di Piala Dunia keenamnya. Mencapai final untuk ketiga kalinya. Itu menempatkannya di sebuah wilayah sejarah yang sebelumnya hanya disentuh Cafu. Juga aneka rekor lainnya! Tapi final kali ini tidak memberi akhir yang sama. Spanyol menang 1-0 setelah perpanjangan waktu. Tidak ada Montiel. Tidak ada di Maria. Tidak ada pesta. Tidak ada kalimat tentang surga. Hanya kekalahan yang terasa lebih sunyi karena semua orang tahu bahwa kali ini perjalanan benar-benar (hampir) selesai.
Itulah mungkin bagian paling manusiawi dari semuanya. Setelah menjadi juara dunia, Messi tetap bisa kalah. Setelah memecahkan semua rekor, ia tetap tidak bisa mengalahkan waktu. Setelah akhirnya diterima, ia tetap harus pergi. Pada 31 Agustus 2026, Messi mengumumkan pensiun dari tim nasional setelah 21 tahun. Ia meninggalkan Argentina dengan 207 penampilan, 125 gol dan 68 assist. Ia telah bermain dalam enam Piala Dunia, mencatat 34 penampilan dan 21 gol di turnamen itu, dan menjadi pemain dengan penampilan dan gol serta assist terbanyak dalam sejarah Argentina. Jika seluruh perjalanan tim nasional dihitung, sebelas final telah ia jalani, dari Piala Dunia U-20 2005, Copa América 2007, Olimpiade 2008, Piala Dunia 2014, Copa América 2015 dan 2016, Copa América 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, Copa América 2024, dan Piala Dunia 2026.
Angka-angka itu akan tinggal di buku. Jadi statistik! Tapi manusia biasanya mengingat sesuatu dengan cara yang lain. Kita mengingat siapa yang tetap datang ketika kita sudah ingin berhenti. Kita mengingat orang yang pernah gagal bersama kita. Kita mengingat seorang teman yang masih berada di samping ketika semua orang mulai pergi. Karena itu Di María penting. Oleh karenanya Martínez penting. Juga Aimar dan Scaloni penting. Dan yang lainnya, penting! Mereka bukan tokoh tambahan dalam cerita Messi. Mereka adalah orang-orang yang membuat sebuah perjalanan panjang terasa tidak terlalu sepi. Bahkan ketika Messi akhirnya mengangkat Piala Dunia, ia tidak mengangkatnya seorang diri.
Maradona tetap Maradona. Ia tidak berkurang sedikit pun karena Messi datang kemudian. Mitologinya tetap hidup. Ronaldo juga tetap Ronaldo. Rivalitas mereka tidak membutuhkan pemenang terakhir untuk menjadi abadi. Mereka telah memberi satu generasi kenangan yang terlalu banyak untuk dihitung. Tapi Messi akhirnya keluar dari dua bayangan itu. Ia tidak menjadi Maradona kedua. Ia tidak perlu menjadi pemenang mutlak atas Ronaldo. Ia menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih sulit sekaligus. Menjadi dirinya sendiri.
Mungkin itu sebabnya kata pulang terasa lebih tepat daripada kata menang. Menang hanya menjelaskan apa yang terjadi di lapangan. Pulang menjelaskan perjalanan. Messi pergi sebagai anak Rosario. Ia tumbuh di tempat lain. Ia mengalami kejayaan di luar rumah. Ia juga mengalami kegagalan di depan rumah. Ia pernah ingin berhenti. Ia kembali. Ia kalah lagi. Ia kembali lagi. Ia akhirnya membawa Piala Dunia. Dan bahkan setelah itu, ia masih harus menerima satu kekalahan terakhir sebelum meninggalkan tim nasional.
Ada sesuatu yang menyedihkan dalam kenyataan bahwa manusia sering baru dipahami setelah perjalanan (hampir) selesai. Ketika seseorang masih berjuang, orang melihat kekurangannya. Ketika ia sudah sampai, orang melihat hasilnya. Jarang ada yang benar-benar melihat perjalanan di antaranya. Messi beruntung karena kamera dunia tidak pernah meninggalkannya. Tetapi bahkan kamera tidak bisa merekam semuanya. Kamera tidak bisa merekam malam-malam ketika seorang pemain pulang ke kamar setelah kalah di final. Ia tidak bisa merekam suara hati seorang anak yang bertahun-tahun dibandingkan dengan legenda. Ia tidak bisa merekam perasaan seseorang yang telah memberikan hampir seluruh hidupnya kepada sebuah rumah tetapi masih sesekali mendengar pertanyaan, apakah kau benar-benar milik kami?
Mungkin karena itulah adegan Messi berlutut setelah Montiel mencetak penalti terakhir terasa begitu kuat. Ia tidak sedang merayakan sebuah trofi saja. Ia seperti sedang meletakkan seluruh berat yang dibawanya selama bertahun-tahun ke tanah. Ada 2007 di sana. Ada 2015. Ada 2015. Ada 2016. Ada keputusan untuk pergi. Ada kepulangan. Ada semua kritik. Ada Maradona. Ada Ronaldo. Ada Di María. Ada Aimar. Ada Scaloni. Ada Martínez. Ada anak kecil dari Rosario yang suatu hari pergi terlalu jauh dan akhirnya menemukan jalan kembali.
Di situlah barangkali kita semua menemukan sedikit diri kita sendiri. Bukan karena kita pernah memenangkan Piala Dunia. Tapi karena kita tahu bagaimana rasanya berjalan jauh lalu pulang. Kita tahu bagaimana rasanya membawa cerita yang tidak semuanya bisa diceritakan. Kita tahu bagaimana rasanya berharap rumah akan melihat kita berbeda, lalu mendapati bahwa beberapa orang masih melihat kita seperti dahulu. Kita tahu bagaimana rasanya belum selesai, bahkan ketika orang lain mengira kita sudah gagal. Dan kita tahu bahwa terkadang satu-satunya cara untuk menjawab keraguan bukanlah menjelaskan diri, melainkan terus berjalan. Messi melakukan itu selama dua puluh satu tahun. Ia tidak selalu menang. Ia bahkan pernah pergi. Tapi ia selalu kembali.
Maka ketika sekarang ia benar-benar meninggalkan Argentina, yang terasa bukan hanya akhir karier seorang pemain. Ada kesedihan lain yang lebih sunyi. Kesedihan melihat seseorang yang sejak kecil pergi mengejar hidup akhirnya pulang, berhasil, diterima, kemudian harus pergi lagi karena waktu tidak pernah mengizinkan manusia tinggal selamanya di tempat yang dicintainya.
Peter Drury pernah mengatakan bahwa anak kecil dari Rosario itu telah mencapai puncaknya dan menemukan jalannya sendiri menuju surga. Malam itu mungkin memang demikian. Tetapi ada satu hal yang bahkan komentar paling indah pun tidak bisa selesaikan. Setelah surga, selalu ada pagi. Setelah pesta, stadion menjadi sepi. Trofi kembali diletakkan di lemari. Lampu dipadamkan. Pemain pulang ke mess. Dan suatu hari, pemain itu benar-benar pulang untuk terakhir kalinya.
Messi sudah sampai di rumah. Bukan sebagai Maradona. Bukan sebagai Ronaldo. Bukan sebagai manusia yang tidak pernah kalah. Ia pulang sebagai anak kecil dari Rosario yang terlalu jauh berjalan, terlalu sering jatuh, terlalu lama diragukan, tetapi tidak pernah berhenti mencoba. Dan mungkin itulah sebabnya kita merasa sedih ketika melihatnya pergi. Sebab yang pergi bukan hanya Messi. Yang pergi adalah masa kecil kita sendiri yang pernah percaya bahwa semua perjalanan akan berakhir dengan kemenangan. Ternyata tidak.
Kadang kita hanya sampai pada titik ketika kita bisa menoleh ke belakang dan berkata, setidaknya aku sudah mencoba. Messi sudah mencoba selama dua puluh satu tahun. Ia kalah, pergi, kembali, menang, kalah lagi, dan tetap kembali.
Dan ketika akhirnya ia menutup pintu tim nasional, mungkin kita tidak perlu mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan segalanya. Tidak ada manusia yang benar-benar selesai. Cukup katakan bahwa anak itu sudah pulang. The little boy from Rosario came home! Dan rumah, setelah bertahun-tahun, akhirnya tahu siapa yang mengetuk pintunya.~




