Surabaya, SuaraRakyat62.com – Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, mengingatkan bahwa keberhasilan gerakan koperasi tidak ditentukan oleh banyaknya koperasi yang dibentuk, melainkan oleh kuatnya fondasi yang melandasi pendiriannya. Menurutnya, koperasi yang lahir dari kebutuhan nyata para anggotanya akan memiliki daya tahan dan keberlanjutan yang jauh lebih kuat dibanding koperasi yang dibentuk semata-mata untuk memenuhi target program.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Jangan Kejar Kuantitas, Sri Untari Tegaskan Koperasi Harus Tumbuh dari Kebutuhan Rakyat

Pernyataan tersebut disampaikan Sri Untari di tengah masifnya pembentukan lebih dari 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa dan ketahanan pangan nasional.

Untari menegaskan, persoalan mendasar koperasi saat ini bukan terletak pada jumlah koperasi yang berdiri, melainkan pada proses lahirnya koperasi itu sendiri.

“Persoalan mendasar koperasi hari ini bukan soal jumlah, tetapi bagaimana koperasi itu lahir. Apakah lahir dari kebutuhan anggotanya atau hanya karena program,” kata Untari, Minggu (12/7/2026).

Menurut mantan Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) tersebut, koperasi yang tumbuh dari kebutuhan bersama umumnya berkembang secara bertahap dengan rasa memiliki yang kuat dari para anggotanya. Sebaliknya, koperasi yang dibentuk melalui program pemerintah memang dapat berdiri dalam waktu singkat, namun menghadapi tantangan besar untuk bertahan ketika program tersebut berakhir.

Meski demikian, Untari mengapresiasi langkah pemerintah yang menjadikan koperasi sebagai salah satu instrumen pembangunan ekonomi rakyat. Ia menilai gagasan menjadikan koperasi sebagai penyalur berbagai kebutuhan masyarakat maupun barang bersubsidi merupakan kebijakan strategis yang dapat memperkuat perekonomian desa apabila dibangun di atas fondasi yang benar.

Menurutnya, hakikat koperasi sejak awal adalah self help through mutual help, yakni menolong diri sendiri melalui kerja sama. Karena itu, koperasi idealnya lahir dari sekelompok orang yang memiliki kebutuhan yang sama, kemudian bersama-sama mendirikan, memiliki, mengelola, serta mengawasi usaha yang mereka jalankan.

“Itu yang menjadi fondasi utama. Orang-orang berkumpul karena memiliki kebutuhan yang sama, kemudian mendirikan perusahaan yang mereka miliki, kelola, dan awasi bersama,” ujarnya.

Untari juga mencontohkan sejumlah koperasi yang mampu bertahan lintas generasi, seperti Kospin Jasa, Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri, dan Koperasi Setia Budi Wanita (SBW). Menurutnya, keberhasilan koperasi-koperasi tersebut tidak terlepas dari proses pembentukannya yang berangkat dari kebutuhan riil para anggotanya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa koperasi yang lahir karena dorongan program pemerintah sering menghadapi berbagai persoalan, mulai dari lemahnya ikatan antar anggota, minimnya rasa memiliki, ketergantungan pada kebijakan pemerintah, hingga kurangnya pendidikan perkoperasian bagi pengurus.

Untari menyebut sedikitnya ada lima tantangan utama yang perlu mendapat perhatian, yakni koperasi yang tidak lahir dari kebutuhan masyarakat, lemahnya ikatan sosial antar anggota, bergesernya semangat gotong royong menjadi sekadar pemenuhan administrasi program, ketergantungan terhadap siklus politik, serta minimnya pembinaan dan peningkatan kapasitas pengurus.

“Koperasi tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Yang dibutuhkan adalah keberlanjutan. Pendidikan anggota, penguatan manajemen, dan pendampingan harus terus dilakukan,” tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.

Ia menilai proses pembentukan KDKMP yang berlangsung dalam waktu relatif singkat membuat sebagian pengurus belum memiliki pengalaman dan pemahaman perkoperasian yang memadai. Bahkan di sejumlah daerah, koperasi yang telah berbadan hukum masih belum berkembang karena jumlah anggotanya masih terbatas.

Karena itu, Untari berharap keberhasilan gerakan koperasi tidak hanya diukur dari jumlah koperasi yang berdiri, tetapi juga dari kemampuan koperasi memberikan manfaat ekonomi bagi anggotanya serta bertahan dalam jangka panjang.

“Kalau anggota merasa memiliki, koperasi akan dijaga oleh anggotanya sendiri. Di situlah koperasi sejati lahir,” pungkasnya.

 

(Ani)