Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Kelangkaan pasokan sapi yang terjadi di sejumlah daerah turut berdampak terhadap ketersediaan dan harga daging sapi di Kota Pasuruan. Kondisi tersebut membuat para pedagang daging sapi harus mencari langkah bersama untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertimbangkan daya beli masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Sapi Langka dan Harga Melambung, Paguyuban Pedagang Daging Kota Pasuruan Terpaksa Sesuaikan Harga Jual

Menyikapi kondisi tersebut, Paguyuban Pedagang Daging Sapi Kota Pasuruan menggelar rapat koordinasi bersama perwakilan Pemerintah Kota Pasuruan dan sejumlah pemangku kepentingan di Ruang Serbaguna UPT RPH Blandongan, Rabu (22/7/2026).

Pertemuan yang dipimpin Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Kota Pasuruan, Muhammad Saifulloh, didampingi Sekretaris Nur Madaniya Maimuna, tersebut dihadiri Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Mulyono, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Badan Ketahanan Pangan Mualif Arif, perwakilan Polres Kota Pasuruan, serta para pedagang dari sejumlah pasar, termasuk Pasar Besar.

Rapat tersebut membahas kondisi pasokan sapi yang dinilai semakin terbatas serta dampaknya terhadap harga jual daging sapi di tingkat pedagang. Para peserta juga berupaya mencari solusi agar aktivitas perdagangan tetap berjalan di tengah meningkatnya biaya dan sulitnya mendapatkan pasokan sapi.

Ketua Paguyuban Muhammad Saifulloh menyampaikan bahwa kondisi yang dihadapi pedagang saat ini cukup berat. Menurutnya, pasokan sapi dari sejumlah daerah mengalami kelangkaan sehingga ketersediaan bahan baku untuk pedagang daging sapi di Kota Pasuruan ikut terdampak.

Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu pertimbangan para pedagang dalam melakukan penyesuaian harga jual. Langkah tersebut dinilai sebagai pilihan yang sulit, namun diperlukan untuk menjaga keberlangsungan usaha para pedagang.

Salah seorang pedagang di Pasar Besar, Nur Madaniya Maimuna, mengungkapkan bahwa kenaikan harga daging sapi juga berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat dalam membeli kebutuhan pangan.

“Kini harga eceran tertinggi daging sapi mencapai Rp140.000 per kilogram. Kami menyadari hal ini memberatkan warga. Banyak pembeli yang akhirnya memilih alternatif lain karena kemampuan ekonomi mereka terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, disampaikan bahwa batas harga eceran tertinggi daging sapi berada di angka Rp140.000 per kilogram. Sementara itu, para pedagang juga membahas sejumlah kesepakatan harga berdasarkan jenis dan peruntukan daging.

Adapun harga yang disepakati antara lain daging sapi sebesar Rp145.000 per kilogram, daging untuk depot dan bakso (campur) Rp130.000 per kilogram, daging bagian dada Rp110.000 per kilogram, daging dengan tulang Rp125.000 per kilogram, serta daging untuk rawon (campur) Rp110.000 per kilogram.

Namun, penyesuaian harga tersebut tetap menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Para pedagang berharap pemerintah dapat membantu mencari solusi untuk mengatasi persoalan pasokan sapi sehingga harga daging dapat kembali lebih stabil.

Saifulloh juga mengajak seluruh pedagang untuk menjaga kekompakan dan mematuhi kesepakatan yang telah dibahas bersama.

“Mari kita pegang teguh kesepakatan yang telah disusun bersama. Jangan ada yang merusak harga demi keuntungan pribadi, karena kita semua berdiri di atas perahu yang sama. Dengan keadaan yang saat ini sedang tidak baik, mari kita hadapi dengan terbuka dan bersatu,” tegasnya.

Sementara itu, pedagang lainnya, Romla, mengatakan kondisi kelangkaan pasokan sapi mulai memengaruhi pilihan usaha sejumlah pedagang. Menurutnya, beberapa pedagang bahkan mulai beralih menjual daging ayam karena pasokan komoditas tersebut dinilai lebih mudah diperoleh dan masih memberikan keuntungan yang cukup layak.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pasokan sapi tidak hanya berdampak terhadap harga daging di tingkat konsumen, tetapi juga terhadap keberlangsungan usaha para pedagang.

Paguyuban Pedagang Daging Sapi Kota Pasuruan berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi yang dihadapi para pelaku usaha. Mereka berharap ada langkah konkret untuk memastikan ketersediaan pasokan sapi dan menjaga stabilitas harga daging sapi di pasaran.

Para pedagang juga berharap pemerintah bersama pihak terkait dapat mencari solusi jangka panjang, sehingga kepentingan pedagang sebagai pelaku usaha dan kemampuan daya beli masyarakat dapat tetap berjalan secara seimbang.

Rapat koordinasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk mencari jalan keluar melalui komunikasi dan sinergi antara pedagang, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya. Dengan adanya koordinasi yang berkelanjutan, diharapkan persoalan kelangkaan sapi dan kenaikan harga daging dapat ditangani secara lebih terukur dan tidak semakin membebani masyarakat.

 

(Yus)